Senin, 18 Juli 2011

Berapa lama sebaiknya waktu kita tidur dalam sehari

Ternyata, berbahaya tidur 8 jam semalam. Orang dewasa yang tidur 8 jam atau lebih (atau kurang dari waktu ideal) dalam semalam, meninggal dalam usia yang lebih muda daripada mereka yang tidur hanya 6 atau 7 jam dalam semalam, dan ini sudah dibuktikan oleh Profesor Daniel Kripke dari Universitas California pada tahun 2004.

Terdapat bukti bahwa gajah yang terkenal panjang umur tidur hanya 2 jam sehari, sedangkan koala yang tidurnya 20 jam sehari hanya menghabiskan hidupnya selama 10 tahun, tetapi kekurangan tidur juga membahayakan terhadap ingatan dan hilanganya IQ dan kemampuan bernalar untuk sementara.
Rata-rata orang memerlukan waktu 7 menit untuk jatuh tertidur. Orang tidur yang sehat dan normal terbangun antara 15 dan 35 kali setiap malam.

40% penyebab kecelakaan kendaraan bermotor di Indonesia adalah pengemudi yang jatuh tertidur. Cara terbaik untuk menghentikan kejadian ini adalah dengan menyelipkan sejumput rambut atau semacamnya di penghalau silau mobil anda. Cara terbaik kedua adalah dengan memakan apel. Apel merangsang pencernaan dan memberikan energi yang dilepaskan secara perlahan-lahan. Cara yang lebih efektif daripada meminum kopi yang efeknya hanya jangka pendek.

Berikut ini kutipan pernyataan Profesor Daniel Kripke :
Sleep is one of the richest topics in science today: why we need it, why it can be hard to get, and how that affects everything from our athletic performance to our income. Daniel Kripke, co-director of research at the Scripps Clinic Sleep Center in La Jolla, Calif., has looked at the most important question of all. In 2002, he compared death rates among more than 1 million American adults who, as part of a study on cancer prevention, reported their average nightly amount of sleep. To many, his results were surprising, but they've since been corroborated by similar studies in Europe and East Asia. Kripke explains.

Q: How much sleep is ideal?
A: Studies show that people who sleep between 6.5 hr. and 7.5 hr. a night, as they report,

live the longest. And people who sleep 8 hr. or more, or less than 6.5 hr., they don't live quite as long. There is just as much risk associated with sleeping too long as with sleeping too short. The big surprise is that long sleep seems to start at 8 hr. Sleeping 8.5 hr. might really be a little worse than sleeping 5 hr.

Morbidity [or sickness] is also "U-shaped" in the sense that both very short sleep and very long sleep are associated with many illnesses—with depression, with obesity—and therefore with heart disease—and so forth. But the [ideal amount of sleep] for different health measures isn't all in the same place. Most of the low points are at 7 or 8 hr., but there are some at 6 hr. and even at 9 hr. I think diabetes is lowest in 7-hr. sleepers [for example]. But these measures aren't as clear as the mortality data.

I think we can speculate [about why people who sleep from 6.5 to 7.5 hr. live longer], but we have to admit that we don't really understand the reasons. We don't really know yet what is cause and what is effect. So we don't know if a short sleeper can live longer by extending their sleep, and we don't know if a long sleeper can live longer by setting the alarm clock a bit earlier. We're hoping to organize tests of those questions.

One of the reasons I like to publicize these facts is that I think we can prevent a lot of insomnia and distress just by telling people that short sleep is O.K. We've all been told you ought to sleep 8 hr., but there was never any evidence. A very common problem we see at sleep clinics is people who spend too long in bed. They think they should sleep 8 or 9 hr., so they spend [that amount of time] in bed, with the result that they have trouble falling asleep and wake up a lot during the night. Oddly enough, a lot of the problem [of insomnia] is lying in bed awake, worrying about it. There have been many controlled studies in the U.S., Great Britain and other parts of Europe that show that an insomnia treatment that involves getting out of bed when you're not sleepy and restricting your time in bed actually helps people to sleep more. They get over their fear of the bed. They get over the worry, and become confident that when they go to bed, they will sleep. So spending less time in bed actually makes sleep better. It is in fact a more powerful and effective long-term treatment for insomnia than sleeping pills.


indonesia nya :

Tidur adalah salah satu topik dalam ilmu pengetahuan terkaya masa kini: mengapa kita membutuhkannya, mengapa ini bisa sulit didapat, dan bagaimana hal itu mempengaruhi segala sesuatu dari kinerja atletik kita untuk pendapatan kita. Daniel Kripke, co-direktur riset di Scripps Clinic Sleep Center di La Jolla, California, telah tampak pada pertanyaan yang paling penting dari semua. Pada tahun 2002, ia membandingkan tingkat kematian di antara lebih dari 1 juta orang dewasa Amerika yang, sebagai bagian dari studi mengenai pencegahan kanker, melaporkan rata-rata jumlah tidur malam. Bagi banyak orang, dengan hasil yang mengejutkan, tapi mereka sudah sejak lama telah diperkuat oleh penelitian serupa di Eropa dan Asia Timur. Kripke menjelaskan.

T: Berapa banyak tidur yang ideal?
J: Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidur antara 6,5 jam dan 7,5 jam setiap malam,

sebagaimana mereka melaporkan, hidup paling lama. Dan orang-orang yang tidur 8 jam atau lebih, atau kurang dari 6,5 jam., mereka tidak hidup cukup lama. Ada sama banyak risiko yang terkait dengan tidur terlalu lama seperti dengan tidur terlalu pendek. Kejutan besar adalah bahwa tidur panjang tampaknya mulai 8 jam ke atas. Tidur 8,5 jam mungkin benar-benar menjadi sedikit lebih buruk daripada tidur 5 jam.

Morbiditas [atau sakit] juga "berbentuk U" dalam arti bahwa keduanya sangat pendek tidur dan tidur yang sangat panjang terkait dengan banyak penyakit-dengan depresi, dengan obesitas-dan karena itu dengan penyakit jantung dan sebagainya. Tetapi [jumlah ideal tidur] untuk ukuran kesehatan yang berbeda tidak semua di tempat yang sama. Sebagian besar titik rendah pada 7 atau 8 jam tidur, tetapi ada beberapa di 6 jam tidur dan bahkan pada 9 jam tidur. Saya pikir diabetes adalah terendah di 7-jam tidur [misalnya]. Tetapi langkah-langkah ini tidak sejelas data kematian.

Saya pikir kita bisa berspekulasi [tentang mengapa orang-orang yang tidur 6,5-7,5 jam hidup lebih lama], tapi kita harus mengakui bahwa kita tidak benar-benar memahami alasan. Kita tidak benar-benar tahu belum apa yang menyebabkan dan apa yang berlaku. Jadi kita tidak tahu apakah tidur singkat dapat hidup lebih lama dengan memperpanjang tidur mereka, dan kita tidak tahu apakah tidur panjang dapat hidup lebih lama dengan menyetel alarm jam lebih awal. Kami berharap untuk mengatur tes dari pertanyaan-pertanyaan.

Salah satu alasan mengapa saya ingin mempublikasikan fakta-fakta ini adalah bahwa saya kira kita bisa mencegah banyak insomnia dan tertekan hanya dengan memberitahu orang-orang yang tidur singkat adalah tidak apa-apa. Kita semua pernah mengatakan kamu harus tidur 8 jam., Tapi tidak pernah ada bukti. Masalah yang sangat umum kita lihat di tidur klinik adalah orang-orang yang menghabiskan waktu terlalu lama di tempat tidur. Mereka berpikir mereka harus tidur 8 atau 9 jam., Sehingga mereka menghabiskan [bahwa jumlah waktu] di tempat tidur, dengan akibat bahwa mereka telah sulit tidur dan banyak terbangun di malam hari. Anehnya, banyak masalah [insomnia] adalah berbaring di tempat tidur terjaga, khawatir tentang hal itu. Ada banyak studi di Amerika Serikat, Inggris Raya dan bagian lain Eropa yang menunjukkan bahwa sebuah pengobatan insomnia yang melibatkan turun dari tempat tidur ketika Anda tidak mengantuk dan membatasi waktu di tempat tidur Anda benar-benar membantu orang untuk tidur lebih banyak. Mereka dapat mengatasi ketakutan mereka dari tempat tidur. Mereka dapat mengatasi kecemasan, dan menjadi percaya diri bahwa ketika mereka pergi tidur, mereka akan tidur. Jadi menghabiskan lebih sedikit waktu di tempat tidur justru membuat tidur lebih baik. Ini sebenarnya yang lebih kuat dan efektif pengobatan jangka panjang untuk insomnia daripada obat tidur.

Manfaat Teknologi Nano di Industri Kesehatan

Perkembangan industri farmasi yang menggunakan teknologi nano saat ini sudah tumbuh demikian pesat. Di dunia farmasi, teknologi nano bisa berperan dalam meningkatkan kualitas produksi dan keamanan (safety performance).

Teknologi nano sendiri merupakan teknologi yang memungkinkan sebuah benda dipecah dalam skala nanometer atau satu per semiliar meter dan merupakan salah satu teknologi yang disebut-sebut mampu mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi di segala bidang.

“Produk berteknologi nano akan lebih cepat diserap dibandingkan produk yang tidak menggunakan teknologi tersebut,” kata Heny Rachmawati, pakar teknologi nano Institut Teknologi Bandung, pada keterangannya, 11 Maret 2011. “Sehingga, dari segi penggunaan, akan lebih efisien,” ucapnya.

Heny mengatakan, teknologi nano di bidang farmasi saat ini banyak dipergunakan untuk ekstrak obat-obatan tradisional seperti gingseng. Selain itu juga pada kandungan kosmetik, misalnya untuk krim tabir surya.

Ginseng yang menggunakan teknologi nano mampu lebih cepat diserap tubuh dan menjadikan kandungan "ginsenosides" (kandungan persentase ginseng untuk menghasilkan stamina) yang lebih tinggi dibandingkan gingseng lainnya.

“Teknologi nano dapat digunakan dalam dunia farmasi karena akan membantu kelarutan, stabilitas, dan kemapuan penyerapan,” kata Heny. “Dalam dunia farmasi, seluruh persyaratan itu harus dipenuhi."

Terkadang, kata Heny, senyawa obat tertentu mengalami kesulitan untuk larut dan melakukan penetrasi. Untuk kondisi yang demikian, teknologi nano dapat mengambil peran. Contoh lain adalah kandungan kalsium dalam susu yang juga harus dibuat menggunakan teknologi nano agar dapat efektif terserap ke dalam tulang.

Saat ini, teknologi nano banyak dikembangkan oleh sektor industri mengingat untuk memproduksinya bukan hal mudah membutuhkan keahlian, evaluasi modifikasi sehingga sampai ke skala nano.

BP POM sendiri, kata Heny, sangat ketat dalam melakukan pengawasan terhadap produk yang menggunakan teknologi nano. “BP POM perlu memeriksa apakah teknologi itu benar diterapkan dalam suatu produk,” kata Heny. “Jangan sampai publikasinya nano tapi kenyataannya tidak,” ucapnya.

Di Indonesia, teknologi nano sendiri baru berkembang sekitar lima tahun terakhir. Padahal, di luar negeri teknologi ini sudah berkembang sejak 10 tahun yang lalu (tahun 1990 an). “Kalau Indonesia tidak memperdalam teknologi nano, maka industri kita termasuk yang tertinggal,” ucapnya.

Di dunia farmasi, Heny menyebutkan, teknologi nano memungkinkan penggunaan dosis obat yang tidak terlalu besar, sehingga sangat efisien dalam memanfaatkan bahan baku.

Sesendok Gula Bisa Membantu Meredakan Stres

Masukkan sesendok gula dalam sajian teh hangat Anda untuk meredakan stres. Minuman manis bermanfaat mengurangi tingkat agresivitas dan menstabilkan emosi seseorang.

Seperti dikutip dari Daily Mail, kandungan gula dalam minuman hangat berperan memompa energi ke otak sehingga emosi selalu terjaga. Oleh karenanya, sangat disarankan mengonsumsi minuman manis sebelum bertemu bos yang sulit, agar tenang.

Efek penenang pada gula ini diuji oleh para psikolog dari Universitas New South Wales dan Queensland, Australia. Mereka melakukan penelitian terhadap sejumlah responden pria dan wanita. Sebagian responden diberikan minuman limun dengan tambahan gula alami. Sisanya, limun dengan pemanis buatan.

Para responden kemudian ditempa dengan sejumlah tugas yang memicu stres yang harus dipresentasikan lewat pidato. Tak hanya itu, emosi mereka juga akan digoda dengan sejumlah komentar menyakitkan yang menyatakan bahwa isi pidato mereka membosankan dan mengecewakan.

Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Experimental Social Psychology ini mengungkap, mereka yang mengonsumsi limun dengan gula alami tak terlalu terpancing dengan provokasi yang diciptakan tim peneliti. Sementara, mereka yang mengonsumsi limun dengan gula sintetis jauh lebih agresif.

Peneliti menyimpulkan, otak membutuhkan gula atau glukosa sebagai energi untuk mengendalikan kemampuan kontrol emosi dan tindakan. Dan, kebutuhan gula meningkat saat otak terprovokasi hal-hal yang memicu stres.

Tanaman yang Bisa Mendeteksi Bom Dengan Berubah Warna [ VIDEO ]



Ilmuwan Amerika mengembangkan tanaman yang bisa mendeteksi bom. Caranya, mereka "mengajari" protein tanaman untuk mengubah warna saat ada unsur kimia tertentu. Penerapan hasil penelitian bukanlah hal yang susah, misalnya, tanaman itu bisa digunakan melingkari gerbang keamanan. Saat teroris mendekat dengan bahan peledak, seluruh tanaman berubah warna menjadi putih.

Daily Mail melaporkan, tanaman itu bekerja karena reseptor protein dalam DNA tanaman secara alami merespon rangsangan ancaman dengan melepaskan unsur kimia bernama terpenoid untuk menebalkan kulit ari daun, akibatnya daun mengubah warna. Penelitian ini dikerjakan oleh profesor biologis University of Colorado, June Medford bersama markas besar angkatan bersenjata Amerika Serikat, Pentagon. "Tanaman tidak bisa berlari atau bersembunyi dari ancaman, sehingga mereka mengembangkan sistem mutakhir untuk mendeteksi dan merespon lingkungan mereka," kata profesor Medford.

Para peneliti merancang program komputer untuk memanipulasi mekanisme pertahanan alami tanaman dengan "mengajari" reseptornya menanggapi unsur kimia bahan peledak serta polutan udara dan polutan air. Reseptor komputer yang didesain ulang tersebut dimodifikasi supaya berfungsi dalam dinding sel tanaman sehingga mereka bisa mengenali polutan-polutan atau bahan peledak dalam udara atau tanah di dekatnya. Tanaman itu mendeteksi senyawa dan mengaktifkan sinyal internal yang menyebabkan hilangnya warna hijau dan mengubahnya menjadi dedaunan putih.

Kemampuan mendeteksi dari tanaman ini serupa bahkan lebih baik daripada anjing. Sifat deteksi itu bisa digunakan untuk tanaman apapun dan bisa mendeteksi beberapa polutan sekaligus. Profesor Medford dan timnya belum lama ini menerima hibah tiga tahun senilai 7.9 juta dolar dari U.S. Defense Threat Reduction Agency untuk membawa penemuan mereka ke "dunia nyata." Penelitian itu muncul dalam jurnal PLOS ON

Pengikut

KIR SMA ANTARTIKA SIDOARJO. Diberdayakan oleh Blogger.

Chat With Me

About Me